Mata Kuliah:
Statistik II
Upload by Ngafifah Story
02.
Uji Hipotesis Satu Arah dan Dua Arah
Uji hipotesis statistik dapat
berupa uji satu arah atau dua arah. Uji satu arah atau dua arah ditentukan oleh
hipotesis alternatifnya. Misalkan parameter populasi (yang ditaksir) dinyatakan
dengan q (bisa
berupa
) dengan penaksir (statistik sampel) dinyatakan dengan
(bisa berupa
). Maka:
1. Uji satu arah berbentuk:
atau
2. Uji dua arah
berbentuk:
Uji Hipotesis Mengenai Proporsi
Data nominal
atau ordinal yang merupakan variabel
independen tunggal X dapat dianalisis dengan menggunakan uji proporsi tunggal.
Hipotesis statistik yang diuji adalah:
(i)
Uji dua pihak:
dengan tandingan 
(ii) Uji satu
pihak (kanan):
dengan tandingan
(iii) Uji satu
pihak (kiri) :
dengan tandingan
Statistik uji
yang digunakan adalah:

Dimana: n
menyatakan jumlah sampel acak X, x menyatakan banyaknya kejadian hasil amatan
dalam sampel acak X, p0
menyatakan dugaan proporsi data populasi
(proporsi yang dihipotesiskan) dan q0 = 1-p0.
Contoh: Misalkan penyaluran dana BLT tahun 2005
diduga hanya 60% efektif atau tepat sasaran. Hasil pengamatan terhadap 100 orang
penerima BLT yang diambil secara acak, menunjukkan bahwa 70 diantaranya memang
memenuhi kriteria sebagai penerima. Apakah data tersebut merupakan bukti yang
cukup untuk menyimpulkan dugaan di atas. Gunakan a = 0,05.
a). Hipotesis :
Contoh di atas menggunakan pengujian satu pihak
(pihak kanan) dengan hipotesis uji:
b). Statistik
uji:

c). Kriteria
pengujian :
Tolak H0 jika
z>z(1-0.05)= z0,95 = 1,645, dalam hal lain H0
di terima
![]() |
Daerah
penolakan H0
Daerah
Luasnya =0,05
penerimaan
H0
luasnya =0,95
1,645
d). Penghitungan:
Diketahui : n =
100, x = 70, p0 = 0,6, q0
= 1-0,6 = 0,4
e). Kesimpulan:
Ternyata bahwa z
hitung yakni z = 2,04 > 1,645. Dengan
demikian H0 di tolak. Ini menunjukkan bahwa penyaluran dana BLT
hanya efektif 60 % tidak bisa diterima pada
a =
0,05.
Untuk data
nominal atau ordinal yang terdiri dari dua variabel independen (X1
dan X2) dapat dianalisis dengan menggunakan uji beda proporsi. Hipotesis-hipotesis
statistic yang mungkin diuji adalah:
(i)
Uji dua pihak:
dengan tandingan 
(ii) Uji satu
pihak (kanan):
dengan tandingan 
(iii) Uji satu
pihak (kiri):
dengan tandingan 
Statistik uji
yang dapat digunakan adalah:
Dimana: x1 adalah jumlah
kejadian pada objek pertama; n1 jumlah sample pada objek pertama; x2
adalah jumlah kejadian pada objek kedua; n2 jumlah sample pada objek
kedua; serta p dan q yang dihitung
dengan rumus:
Contoh: Sebuah penelitian yang
dilakukan di Kabupaten Buton tentang tingkat partisipasi warga dalam Pilkada. Misalkan
diambil 2 buah kecamatan yakni kecamatan Lasalimu dan Kecamatan Gu. Di kecamatan
Lasalimu, diketahui jumlah warga yang menggunakan hak pilih sebanyak 25 orang
dari 30 sampel yang diambil secara acak. Sementara itu, data dari kecamatan Gu menunjukkan
bahwa dari 45 sampel warga yang diambil, 40 diantaranya menggunakan hak pilih.
Apakah ada perbedaan tingkat partisipasi warga antar kecamatan di kabupaten
Buton dalam menggunakan hak pilih pada pelaksanaan pilkada? Gunakan taraf signifikansi
0,01.
a). Hipotesis statistik:
Hipotesis alternative dalam kasus
tersebut adalah: “Ada
perbedaan tingkat partisipasi warga diantara sejumlah kecamatan yang ada di kabupaten
Buton dalam pilkada”.
b).
Statistik uji:
c). Kriteria
pengujian:
H0
tidak ditolak jika
, dan dalam hal yang lain H0 ditolak.
Karena
, maka H0
tidak ditolak jika
. (perhatikan gambar)
![]() |
Daerah
penolakan H0
Daerah penolakan H0
Luasnya=a/2=0,005 Daerah Luasnya=a/2=0,005
penerimaan H0
-2,575 0 2,575
d). Penghitungan:
Dari data yang
dikumpulkan diperoleh statistik data sebagai berikut:
Bandingkan
dengan kriteria:
. Berdasarkan criteria ini, maka 
![]() |
Daerah
penolakan H0
Daerah
penolakan H0
Luasnya=a/2 Daerah Luasnya=a/2
penerimaan H0
-2,575 0 0,693
2,575
e).Kesimpulan:
Karena, nilai z
hitung berada pada wilayah penerimaan H0 maka hipotesis yang menyatakan
terdapat perbedaan tingkat partisipasi warga diantara sejumlah kecamatan di
kabupaten Buton dalam pilkada tidak dapat diterima pada taraf signifikansi
0,01”.
Uji Hipotesis Mengenai Rata-Rata
Data interval
atau pun ratio yang merupakan data variabel independen tunggal (X) dapat
dianalisis dengan menggunakan uji rata-rata. Hipotesis-hipotesis statistic yang
mungkin diuji adalah:
(i)
Uji dua pihak:
dengan tandingan 
(ii) Uji satu
pihak (kanan):
dengan tandingan 
(iii) Uji satu
pihak (kiri):
dengan tandingan 
Statistik uji
yang dapat digunakan adalah:
1.
Jika
diketahui,
digunakan statistik uji:
Dimana:
n menyatakan jumlah data amatan;
menyatakan
rerata data sample amatan; m0
menyatakan dugaan rata-rata data populasi, s2
menyatakan varians populasi (diketahui)
2.
Jika
tidak
diketahui, digunakan statistik uji:
Dimana: n menyatakan
jumlah data amatan;
menyatakan rerata data
sample amatan; m0 menyatakan dugaan
rata-rata data populasi, s2 (varians data sample) sebagai penduga
terhadap varians populasi yang tidak diketahui
Contoh: Misalkan jatah beras warga
miskin (raskin) di suatu kelurahan diduga dimanipulasi atau disalahgunakan pembagiannya
oleh kepala kelurahan setempat. Warga yang seharusnya menerima 10 kilogram
ternyata diduga hanya mendapatkan rata-rata kurang dari itu. Untuk mengetahui
benar tidaknya isu tersebut, diambil 30 sampel acak penerima raskin dari
kelurahan tersebut, dan diperoleh data jatah beras (dalam kilogram) sebagai
berikut:
9 10 9,5
8 5 10 8 8 8 8 5
10 9,5 9 9
8 9
9 8 9 9 9 7 9 9 9 10 8 8 8
Ujilah kebenaran
dugaan tersebut pada a = 0,05.
Kasus diatas
menggunakan rumus yang kedua, karena varians populasi (s2) tidak
diketahui.
a). Hipotesis
statistik yang diuji adalah:
b).
Statistik uji yang digunakan :
c).
Kriteria pengujian:
Tolak H0
jika t <-t(a; n-1) = t(0,05;29)=
-2,045 sedangkan dalam hal lainnya terima H0.
![]() |
Daerah
penolakan H0
Luasnya=a=0,05 Daerah
penerimaan H0
-2,045 0
d).
Penghitungan
Diketahui : n=
30, dan m0=10.
Dari 30 data sampel di atas diperoleh
=8,5 dan s2 =
1,483. Sehingga:
e). Kesimpulan:
Karena t = -6,75 < -2,045 maka dugaan adanya
penyelewengan pembagian jatah raskin di kelurahan tersebut benar.
Data interval
atau data ratio yang terdiri dari dua variabel independent (X1 dan X2)
dapat dianalisis dengan menggunakan uji beda dua rata-rata:
Hipotesis-hipotesis
statistic yang mungkin diuji adalah:
(i)
Uji dua pihak:
dengan tandingan 
(ii) Uji satu
pihak (kanan):
dengan tandingan 
(iii) Uji satu
pihak (kiri):
dengan tandingan 
Statistik –statistik
uji yang dapat digunakan antara lain adalah:
1. Jika
(varians
populasi homogen) dan diketahui. Statistik uji yang digunakan adalah:

Dimana: n1
menyatakan jumlah data dari sample kelompok pertama; n2 menyatakan
jumlah data dalam sample kelompok kedua
menyatakan rerata data
dari sample kelompok pertama;
menyatakan rerata data
dari sample kelompok kedua
2. Jika
(varians
populasi homogen) tetapi tidak diketahui digunakan rumus:

dimana s2
adalah varians gabungan sample kelompok pertama dan kedua yang dihitung dengan
rumus:
3.
Jika
(varians
populasi tidak homogen) dan keduanya tidak diketahui digunakan rumus:

dimana
dan
masing-masing
menyatakan varians data sample kelompok pertama dan kedua:
4.
Untuk pengamatan berpasangan digunakan
rumus:

dimana
menyatakan rerata dari data selisih dua pengamatan
berpasangan dengan
sebagai
variansnya.
Contoh :
Diduga bahwa terjadi penurunan jatah raskin dari tahun ke tahun di kelurahan X.
Untuk membuktikan kebenaran dugaan tersebut dikumpulkan data tentang jatah
raskin yang telah diterima oleh masing-masing 100 kepala keluarga pada tahun
2006 dan 110 kepala keluarga pada tahun 2007. Dari data yang terkumpul
diperoleh rata-rata dan varians jatah raskin yang diterima setiap warga pada tahun 2006 adalah
9,5 dan 1 kg/orang/bulan. Sedangkan rata-rata dan varians penerimaan jatah
raskin pada tahun 2007 sebesar 8,5 dan 1,5 kg/orang/bulan. Misalkan diasumsikan
bahwa varians populasi jatah raskin adalah homogen namun tidak diketahui, ujilah
kebenaran dugaan tersebut di atas pada pada a=0,025
Kasus di atas menggunakan
rumus yang kedua. Karena varians populasinya diasumsikan sama (homogen) namun
tidak diketahui.
a).
Hipotesis statistik yang diuji adalah:
b).
Statistik uji yang digunakan :

c).
Kriteria pengujian:
Tolak H0
jika t >t(a;
n1+n2-2) = t(0,025;208)= 2,241, dan dalam hal lainnya
terima H0.
d).
Penghitungan
Diketahui : n1=
100, n2= 110,
=9,5
=8,5,
dan
. Terlebih dahulu dihitung varians
gabungannya yakni,
Sehingga:

e). Kesimpulan:
Oleh karena t =
6,45 >2,241 maka dugaan bahwa terjadi penurunan jatah raskin dari tahun ke
tahun yang diterima oleh warga di keluarahan X adalah benar.
Uji Hipotesis Mengenai Kebebasan
Dua variabel independen
dapat dilakukan uji kebebasan diantara keduanya dengan menggunakan prosedur uji
atau statistik uji Chi kuadrat, yakni:

Dimana: x 2 menyatakan chi kuadrat
hitung, oij= frekuensi observasi data amatan dalam baris ke-i kolom
ke-j dan eij= frekuensi harapan data amatan dalam baris ke-i kolom
ke-j
Sebagai contoh, apakah ada
hubungan antara keanggotaan partai seseorang (pengurus/simpatisan) dengan loyalitas
mereka terhadap partai dalam memilih calon bupati yang diusung oleh partainya dalam
pilkada. Misalkan dikumpulkan 2500 sampel pengurus dan simpatisan dari 3 partai
besar yakni Golkar, PDIP, dan PKB seperti tertera dalam tabel kontingensi di
bawah ini. Ujilah fenomena di atas pada a=0,05
oij
|
Golkar
|
PDIP
|
PKB
|
Total
|
Loyal
|
310
|
315
|
300
|
925
|
Tidak
Loyal
|
500
|
570
|
505
|
1575
|
Total
|
810
|
885
|
805
|
2500
|
a). Hipotesis yang diuji adalah:
Ho: Tidak ada hubungan antara kepengurusan seseorang dalam suatu partai
dengan pilihannya dalam pemilihan bupati (saling bebas)
H1: Ada hubungan antara kepengurusan
seseorang dalam suatu partai dengan pilihannya dalam pemilihan bupati (tidak saling bebas)
b). Statistik uji yang digunakan adalah:

c).
Kriteria Pengujian:
Tolak H0
jika:
Daerah
penerimaan
H0 Daerah penolakan H0
5,991
d).
Penghitungan:
Hasil
penghitungan eij disajikan
dalam tabel di bawah ini
eij
|
Golkar
|
PDIP
|
PKB
|
Loyal
|
299,70
|
327,45
|
297,85
|
Tidak
Loyal
|
510,30
|
557,55
|
507,15
|
Dengan demikian,

d).
Kesimpulan:
Oleh karena
, maka Ho diterima. Ini berarti bahwa pengurus maupun
simpatisan partai ternyata tidak loyal/tidak setia ketika memilih calon bupati
yang diusung oleh partainya dalam suatu pilkada.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar