Mata Kuliah:
Statistik II
Upload by Ngafifah Story
01.
HIPOTESIS STATISTIK
Hipotesis merupakan istilah yang paling sering dijumpai dalam statitika
maupun terapannya dalam bentuk penelitian ilmiah. Hipotesis didefenisikan sebagai
jawaban atau dugaan yang bersifat sementara mengenai satu atau lebih populasi
amatan. Karena merupakan dugaan yang bersifat sementara maka perlu
diuji kebenarannya. Benar tidaknya sebuah hipotesis tidak dapat diketahui
dengan pasti, kecuali jika diperiksa semua anggota populasi yang sedang
diamati. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan, terutama jika populasinya
sangat banyak, atau populasi dengan keanggotaan tak hingga. Oleh karena itu, pengujian
terhadap hipotesis dilakukan terhadap data sampel refresentatif yang diambil
dari populasi. Bukti dari data sampel yang tidak konsisten akan membawa
penolakan terhadap hipotesis. Sebaliknya bukti yang konsisten dari data sampel
mengakibatkan penerimaan terhadap hipotesis.
Penolakan terhadap hipotesis maka berarti hipotesis tersebut memang salah
atau tidak didukung oleh fakta empiris. Sebaliknya, penerimaan terhadap
hipotesis ”tidak berarti” bahwa hipotesis tersebut benar. Satu-satunya alasan
untuk menerima sebuah hipotesis adalah bahwa tidak ditemukannya bukti
untuk menolaknya atau mempercayai sebaliknya.
Menurut tingkat eksplanasi hipotesis yang akan diuji, maka rumusan
hipotesis dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu:
1.
Hipotesis
Deskriptif (pada satu sampel atau
variabel mandiri/tidak dibandingkan dan dihubungkan)
Yaitu dugaan tentang nilai suatu variabel mandiri, tidak membuat perbandingan
atau hubungan. Sebagai contoh, bila
rumusan masalah penelitian sebagai berikut ini, maka hipotesis (jawaban
sementara ) yang dirumuskan adalah hipotesis deskripsi.
Dalam perumusan hipotesis statistik, antara hipotesis nol (H0)
dan hipotesis alternatif (Ha) selalu berpasangan, bila salah satu
ditolak, maka yang lain pasti diterima sehingga dapat dibuat keputusan yang
tegas, yaitu H0 ditolak pasti Ha diterima. Hipotesis statistik dinyatakan melalui
simbol-simbol.
Berikut ini diberikan contoh berbagai pernyataan yang dapat dirumuskan
hipotesis deskriptif-statistiknya:
a. Suatu perusahaan
minuman harus mengikuti ketentuan, bahwa salah satu unsur kimia hanya boleh di
campurkan paling banyak 1% (paling banyak berarti lebih kecil atau sama dengan
:
).
Dengan demikian rumusan hipotesis statistik adalah :
b. Suatu bimbingan
tes menyatakan bahwa murid yang dibimbing di lembaga itu, paling sedikit 90%
dapat diterima diperguruan tinggi. Rumusan hipotesisnya :
c. Seorang peneliti
menyatakan bahwa daya tahan lampu merek A = 450 jam dan B = 600 jam. Hipotesis statistiknya:
Harga
dapat diganti dengan
nilai rata-rata sampel, simpangan baku dan varians. Hipotesis pertama dan kedua diuji dengan uji
satu pihak (one tail) dan ketiga
dengan dua pihak (two tail).
2.
Hipotesis
Komparatif
Yaitu pernyataan yang menunjukkan dugaan nilai dalam satu variabel atau
lebih pada sampel yang berbeda. Contoh
rumusan masalah komparatif dan hipotesisnya:
a. Apakah ada
perbedaan daya tahan lampu merk A dan B?
b. Apakah ada
perbedaan produktivitas kerja antara pegawai golongan I, II, III?
Rumusan Hipotesisnya adalah:
a.1. Tidak
terdapat perbedaan daya tahan lampu antara merk A dan B
a.2. Daya tahan
lampu merk B paling kecil sama dengan lampu merk A
a.3. Daya tahan
lampu merk B paling tinggi sama dengan lampu merk A
Hipotesis Statistiknya adalah:
a.1.
a.2. 

a.3. 

Rumusan Hipotesisnya adalah :
b.1. Tidak
terdapat perbedaan (ada persamaan) produktivitas kerja antara Golongan I, II,
III
Hipotesis Statistiknya adalah:
b.1. 

Harga
(mu) dapat diganti
dengan nilai rata-rata sampel, simpangan baku, varians dan proporsi.
3.
Hipotesis
Hubungan (Asosiatif)
Yaitu suatu pernyataan yang menunjukkan dugaan tentang hubungan antara dua
variabel atau lebih. Contoh rumusan
masalahnya adalah ”Apakah ada hungan
antara gaya kepemimpinan dengan efektifitas kerja?”. Rumusan dan hipotesis nolnya adalah : Tidak
ada hubunga antara gaya kepemimpinan dengan efektifitas kerja.
Hipotesis statistiknya adalah :

Konsekeuensi dari pernyataan di atas, maka dalam
pengamatan ilmiah, peneliti biasanya menawarkan sebuah hipotesis uji yang
diharapkan akan ditolak. Hipotesis statistik H0 perlu dinyatakan
atau diungkapkan dengan pasti, sedangkan hipotesis alternatifnya membolehkan
beberapa kemungkinan nilai. Sebagai
contoh, misalkan sebuah vaksin baru dianggap 30% lebih efektif memberikan
perlindungan terhadap virus influensa dibandingkan dengan jenis vaksin lama. Hipotesis
nihil (H0) dari pernyataan di atas adalah:
H0: p = 0,30
Sedangkan
hipotesis alternatif (H1) dapat berupa
H1: p ¹ 0,30 atau H1:
p > 0,30
PENGUJIAN
HIPOTESIS STATISTIK
Langkah-Langkah Pengujian Hipotesis
1.
Merumuskan hipotesis nihil (H0)
2.
Menentukan taraf signifikansi
3.
Menentukan kriteria (menetapkan statistik uji, misalnya
t, F, r, atau X2. Nilai dari
statistik uji adalah nilai yang akan dipakai sebagai dasar untuk menerima atau
menolak hipotesis nihil. Kriteria di
peroleh dari tabel distribusi t, F, r atau X2).
4.
Melakukan perhitungan statistik (menemukan t, F, r atau X2
yang diperoleh dari data sampel)
5.
Menarik kesimpulan.
Kekeliruan dalam
Pengujian Hipotesis
Misalkan sebuah pernyataan bahwa metode penyaluran
dana program BLT tahun 2005 menjadikan dana BLT hanya 30% tepat sasaran. Perubahan
metode pendataan baru yang dilakukan oleh pemerintah untuk tahun 2008 dianggap
lebih baik dari sebelumnya, sehingga diasumsikan bahwa dana program BLT tahun
ini akan lebih efektif dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Misalkan secara
acak diambil 50 orang penerima BLT tahun 2008 dan diamati secara seksama
kelayakannya sesuai dengan kriteria atau persyaratan yang ditentukan untuk
menerima BLT. Jika ternyata 25 dari 50 orang tersebut benar-benar berhak sesuai
kriteria yang ditentukan, maka metode penyaluran BLT tahun 2008 layak dianggap
lebih unggul dari metode sebelumnya.
Pada dasarnya kita akan menguji hipotesis
nol bahwa penyaluran BLT tahun 2008 tidak tepat sasaran atau sama saja dengan
tahun-tahun sebelumnya. Secara statistik H0 dan alternatifnya H1
diungkapkan sebagai berikut:
H0: p = 0,3 ; H1: p >
0,3
Ukuran yang
dijadikan dasar untuk menguji hipotesis ini adalah X yakni banyaknya orang yang
layak sebagai penerima BLT tahun 2008. Misalkan, dari 50 orang yang dijadikan
sampel dibagi ke dalam dua kelompok, yakni yang lebih kecil dari 25 dan yang
lebih besar atau sama dengan 25 orang. Semua kemungkinan nilai di atas 24,5
membentuk wilayah penolakan H0, dan sebaliknya semua kemungkinan
nilai di bawah 24,5 membentuk wilayah
penerimaan H0. Angka X0 = 24,5 merupakan nilai
kritis yakni nilai antara wilayah penerimaan dan wilayah penolakan H0.
Jika ternyata X > X0 maka H0 ditolak dan menerima H1.
Jika kebalikannya yakni X < X0
maka H0 diterima dan H1 yang ditolak.
Pengujian hipotesis seperti di atas dapat
menimbulkan dua jenis kesalahan. Pertama, anggaplah bahwa penyaluran
dana BLT tahun 2008 sesunggunya tidak lebih efektif (tidak tepat sasaran) dari
sebelumnya. Namun demikian hasil survey dari 50 orang penerima BLT ternyata 25
diantaranya memang sudah sesuai kriteria. Ini berarti telah terjadi kesalahan,
yakni menolak H0 dan menerima H1 padahal sesungguhnya H0
benar yakni bahwa BLT tahun 2008 sama saja dengan tahun 2005. Kesalahan ini
dinamakan kesalahan tipe I, yakni menolak Hipotesis nol (H0)
yang benar .
Peluang melakukan kesalahan tipe I
dinamakan taraf signifikansi yang dilambangkan dengan a. Misalkan X menyatakan banyaknya orang
penerima BLT yang sesuai dengan kriteria, maka:

Kedua, anggaplah bahwa
penyaluran dana BLT tahun 2008 memang lebih efektif (tepat sasaran)
dibandingkan sebelumnya. Hasil survey dari 50 orang penerima BLT ternyata kurang
dari 25 orang yang dianggap layak atau berhak (sesuai kriteria). Ini berarti kita
akan menerima H0 dan menolak H1 padahal sesungguhnya H0 tidak
benar, yakni bahwa penyaluran dana BLT tahun 2008 lebih baik dibandingkan
dengan tahun 2007. Kesalahan ini dinamakan kesalahan tipe II, yakni menerima Hipotesis nol
(H0) yang salah .
Peluang melakukan kesalahan tipe II
dilambangkan dengan b. Besarnya kesalahan tipe II hanya
dapat dihitung jika hipotesis alternatif dibuat spesifik. Dalam contoh
ini, anggaplah H1: p = 0,5 >0,3. Misalkan X menyatakan
banyaknya orang penerima BLT yang sesuai dengan kriteria, maka:

Besarnya nilai b di atas menunjukkan
bahwa prosedur pengujian yang dilakukan kurang baik. Pengujian yan ideal jika
peluang melakukan kesalahan tipe I maupun tipe II keduanya menjadi kecil. Untuk
membuat nilai dari b menjadi kecil dapat dilakukan dengan
mengubah wilayah kritiknya. Misalkan sekarang nilai kritik berubah dari 24,5
menjadi 20,5 akan mengubah nilai a maupun b.

Berdasarkan hasil penghitungan di atas,
penurunan terhadap nilai b diikuti oleh
peningkatan nilai a.
Namun demikian, sebaliknya juga bisa terjadi yakni penurunan terhadap
nilai a menyebabkan nilai b meningkat. Peluang
melakukan kesalahan tipe I dan II kedua-duanya dapat diperkecil dengan menambah
ukuran sampel pengamatan. Misalkan kita menambah ukuran sampel dari 50 menjadi
150 orang. Sekarang, jika 63 orang dari 150 orang penerima BLT memang layak
menerimanya, maka hipotesis nihil akan ditolak.
Untuk memecahkan masalah di atas digunakan
hampiran distribusi normal N(x,
,s) terhadap distribusi binomial b(x,n,p). Dalam hal ini :
dan
Oleh karena n=150
dan p untuk H0 sebesar 0,30 maka
dan
Titik kritis
sekarang menjadi x = 62,5. Melalui transformasi dari perubah acak X ke variabel
acak normal Z diperoleh:
Sehingga, besar nilai a menjadi

Oleh karena n
=150 dan p untuk H1 sebesar 0,50 maka
dan
Dengan titik
kritis x = 62,5 diperoleh variabel acak normal,
Sehingga, besar
nilai b menjadi

Nampak bahwa
baik a maupun b keduanya menjadi
kecil dengan penambahan ukuran sampel dari 50 menjadi 150 orang.
Secara ringkas
dua tipe kekeliruan tersebut disajikan pada tabel berikut:
Kondisi Sebenarnya
|
Keputusan
|
|
Menerima
|
Menolak
|
|
H0 Benar
|
Keputusan Tepat (1-α)
|
Kekeliruan Tipe I (α)
|
H0 Salah
|
Kekeliruan tipe II (b)
|
Keputusan Tepat (1-b)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar